Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
10 Agustus 2011

Behind the story of a life phenomenon

Ditulis oleh Ahmed Reza Rafsanzani

Dulu waktu saya masih newbie di teladan, saya bener-bener gak dong-an tentang atmosfer kegiatan nonakademis di sekolah ini. Saya telah merasakan efek malu bertanya. Akibatnya, saya tidak tahu kemana saya harus pergi setelah jam pulang sekolah karena banyaknya ladang ilmu yang tersedia di teladan, beberapa terletak di samping lapbas. Sehabis GVT ada promosi mati-matian di sana demi menyukseskan open recruitment masing-masing organisasi. Ada juga yang ngajak saya ikut TSC, Sigma, TJRC, THA, NP, dll. Tapi justru keseimbangan feeling saya muncul pada TSC dan Sigma :S

Saya akui saya memang tertarik berkreasi dengan berbagai hal, membuat hal-hal baru yang dapat berguna (atau setidaknya impresif di mata awam), juga sangat ingin bisa menulis dengan baik dan koherensif. Di sisi lain, saya ingin memanjakan mata-mata manusia dengan desain yang saya buat daripada manusia-manusia tersebut stress karena kebanyakan melihat dunia yang fana ini :P

Namun keseimbangan ini berakhir dengan tragis: sebuah keputusan yang mengubah hidupku di teladan. Selamanya. #woot

Saya memilih untuk tidak memberatkan salah satu titik keseimbangan tersebut.
Saya pilih jalan tengah (?)
Kamsudnya saya memilih untuk tidak meramaikan bursa open recruitment di dua organisasi tersebut.
Saya gak tau kenapa, mungkin karena terlalu banyak perhitungan sampai recruitment udah tutup :S

Konyol memang. Tapi kayaknya enak juga ya punya keluarga yang spesial dan sehobi di sekolah *_*

Tapi ra masalah! Pulang cepet adalah berkah yang harus dioptimalkan \m/ hehe

Sampai beberapa bulan kemudian saya bergabung dengan klub robotik teladan karena sesuai dengan ketertarikan saya. Awalnya anggota klub robotik itu banyak, tapi lama-lama pada fading away mungkin karena kegiatannya yang racetho, larutnya kebanyakan teori yang masih belum friendly sama orang-orang awam, dan kurang praktik, efeknya: kurang prestasi tentunya.

Prospek robotika di Indonesia sendiri sudah cukup terasa "rame" walaupun masih dalam batas-batas inovasi yang terkadang dipandang sebelah mata. Namun prospeknya di teladan masih terombang-ambing karena minimnya support pihak yang berwajib, terlebih lagi saat saya mengetahui kalo robotik itu baru legal di teladan pada tahun ajaran 2011/2012, berarti selama 3 tahun ini robotik itu ilegal wkwkwk. Walaupun baru menyumbang sedikit piala untuk dipajang, tapi kok yo ngono to.. :hammer:. Tidak jarang juga dalam setiap lomba yang saya ikuti, dompet pribadi saya menipis akibat pengorbanan saya #wuess, bahkan untuk uang pendaftaran sekalipun. Nggak heranlah kalo banyak yang meninggalkan robotik :D haha

Kegiatan di klub ini ternyata memang out of mainstream, berkali-kali berkompetisi dalam ajang regional maupun nasional, hasilnya belum juga memuaskan. Mungkin memang kami sendiri yang masih kurang terampil dibandingkan dengan klub-klub robotik dari sekolah lain, tapi setidaknya sudah berusaha maksimal. Dalam persiapan lomba-lomba itu, tak jarang kami berpeluh keringat hingga kegelapan malam menyergap di laborarotium komputer, seakan menjadi juru kunci labkom. Tak jarang juga kami touring keliling jogja hanya sekedar untuk mencari bahan-bahan robot, tapi setelah bahannya ketemu, tak jarang juga kami kaget kalo harganya mahal (T.T) Tapi banyak pengalaman yang manis, pahit, asik, walaupun agak edan lah, hahaha.

Tibalah pada suatu titik dalam relativitas waktu, label saya sebagai cah robotik membuat saya tertarik ke dalam suatu kegiatan yang keren, membawaku pada suatu titik pencapaian yang tak pernah kuduga sebelumnya. Saya mendapatkan banyak ilmu dari kegiatan tersebut, baik tentang kepenulisan, desain grafis, perancangan model, dan sains. Pengetahuan saya serasa di-charge dengan sumber ilmu. Titik pencapaian yang insya Allah akan menjadi awal terbentuknya titik-titik pencapaian lainnya.

Suatu kebetulan kah? Menurut saya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah diatur baik oleh Sang Pengatur maupun oleh manusia itu sendiri.

Alhamdulillah, thanks God for everything!
Thanks reader :D

Read more....

Pointing finger on every direction

Ditulis oleh Ahmed Reza Rafsanzani

The world is getting hotter in recent years, already showing many signs of worldwide climate change. Arctic ice is rapidly disappearing, and the region may have its first completely ice-free summer by 2040 or earlier. Polar bears and indigenous cultures are already suffering from the sea-ice loss. Many big natural disasters happened in a row, extreme weather events killing thousands of human, seems like the nature wants to stop human population which treated the nature badly. It might change the planet. Although there are theories said that global warming is just a cycle and not dangerous, the fact is natural resources, which are most of them are not renewable, almost reach their exhaust and it causes instability of the ecosystem. Human activities are causing it.

Since the word “Global Warming” has became well-known to human society, most people have known the cause of global warming and the impact of global warming to the earth and have known how to prevent it. Nowadays, we are also taught about the way to prevent global warming and cure the world in every side: TV, mass media, school, posters in the streets, and brochures; everything is about persuading people to save the environment. Even there are several public movements shouting “Go Green” out loud, not only public movement but also artists and people communities do the same thing. Seems good, right? Is it a sign that the world is going better? Perhaps.

As we know that some people in some countries are blaming on each other for making the world hotter, even some big countries do not want to responsible about global warming and some of them even ignore what scientists say about the danger of global warming. There are also people who only talk about preventing worse global warming but have no action, even pointing their finger on every direction to urge others to heal the world, but not urging themselves. In Indonesia itself, the government has done some efforts in saving the environment, but their efforts are not maximal yet because the government is not fully supported by the entire people. Only few people who really change their daily life and take realistic actions in case of keeping the environment green. Minimum efforts are caused by the minimum self conscience on saving the world.

Individuals are not supposed to do a big thing to change the world, it is not a must. But if you can't do big thing, why don't do small thing with great way? Simple things like turning off the lamp while on the noon, bicycling to everywhere, and being vegetarian may help a lot. We should also use green technologies, which are rapidly bloom nowadays and develop them to be safer and better technologies. So, let’s begin our healthier life and environment from ourselves that will grow a conscience. Cooperation between the government and the people is also important. Work hard which is made by a synergy between government and people makes a great power. All of us are responsible, because the nature was created by God to be used by human, not to be broken. By treating our earth well, we can understand how almighty the God is.

*Hello readers! This english essay is a part of my English tasks. Notice me if you have something to say about the essay :D

Read more....

17 Februari 2011

Plasmurator atau Plasmulator? PLASMURATOR!

Ditulis oleh Ahmed Reza Rafsanzani

Assalamualaikum!

Ternyata terdapat sebuah fenomena menarik tentang nama plesetan Plasmurator, yaitu Plasmulator -- kata yang biasa diucapkan oleh orang yang tidak bisa ngomong "rrrrrrrrr" dan mengalami kesulitan membedakan antara pemulung dengan pemurung. Sebenarnya salah siapa ini? Kemungkinan besar sih salah wartawan yang meliput. haha #peace. Tapi maklumlah, berprofesi sebagai wartawan itu selalu dikejar deadline dan harus sigap mencari informasi sebanyak mungkin.




yang bener tulisannya PLASMURATOR = 1040 hasil pencarian



yang salah tulisannya PLASMULATOR = 2000 hasil pencarian :hammer:

anehnya lagi, hasil pencarian pertama adalah web LIPI, ternyata masih ada kesalahan penulisan di webnya LIPI, padahal kalo dibuka artikelnya, penulisan "plasmurator" lainnya sudah bener, cuma ada satu kata "plasmulator" yang salah. wew

Pengumuman resmi pemenang NYIA dari LIPI: http://www.lipi.go.id/www.cgi?pengumuman&1287720544&&2010

kalo link di atas dibuka, bisa dilihat bahwa judul karya kami adalah "Plasmurator (Plasma-Generator ) Sebagai Peminimalisasi Emisi Kendaraan Bermotor yang Efektif dan Efisien" bukan "Plasmulator (Plasma-Generator ) Sebagai Peminimalisasi Emisi Kendaraan Bermotor yang Efektif dan Efisien"

jadi yang bener itu "PLASMURATOR" :D

"....Kami menamainya PLASMURATOR, awalnya adalah singkatan dari PLASma MUffler geneRATOR, namun kata “muffler” dihilangkan karena ternyata muffler memang merupakan komponen pada knalpot yang berfungsi sebagai peredam...." (The Journey of Plasmurator, Desember 2010)


Semoga post ini bisa menjadi hasil pencarian paling atas di pejwan google dengan keyword "plasmurator" dan "plasmulator". haha

Wassalamualaikum w.w.

Read more....

31 Desember 2010

The Journey of PLASMURATOR

Ditulis oleh Ahmed Reza Rafsanzani

Tau apa itu Plasmurator? Lalu bagaimana sejarah terbentuk huruf2 menjadi kata itu? Just cekidot gan!

Saya cuma mau cerita tentang kegiatan saya dan teman-teman saya beberapa bulan terakhir. Sampai pada puncaknya, saya dapat membuat jejak sejarah saya di Hanoi, Vietnam. (woot)

The Story

Perjalanan panjang hingga ke Hanoi, tentunya melalui tahapan-tahapan yang cukup unik dalam kelompok kami. Ikhsan Brilianto siswa kelas XI IPS dan Andreas Diga Pratama Putera siswa kelas XI IPA 8 SMA N 1 Yogyakarta tergabung dalam TSC (Teladan Science Club). Sedangkan, Ahmed Reza Rafsanzani
(red: saya) siswa kelas XI IPA 6 seorang anggota Teladan Robotic Club SMA N 1 Yogyakarta.

Bermula pada bulan Januari, Ikhsan dan Andre berencana membuat suatu penelitian guna mengikuti suatu perlombaan penelitian. Di samping itu membuat penelitian merupakan kewajiban, bahkan kebutuhan bagi seorang siswa SMA N 1 Yogyakarta yang tergabung dalam TSC. Memang, untuk dunia penelitian sudah dikenal Ikhsan sejak SMP. Sementara itu, Andre baru saja mengenal dunia penelitian semenjak masuk di TSC. Sehingga, Andre sering “maen” ke rumah Ikhsan untuk membicarakan penelitian serta rencana penelitian ke depan. Karena selain itu juga rumah Ikhsan dengan Andre cukup dekat.

Namun, setelah rencana penelitian terbentuk, Ikhsan sibuk dengan kegiatan lomba Olimpiade Sains Nasional dan begitu juga Andre disibukkan dengan seleksi AFS. Walhasil, penelitian tersebut tidak mampu terselesaikan. Pertimbangan kami agar mampu fokus dan maksimal pada lomba tersebut karena lomba yang kami hadapi sayang disia-siakan.

Tim terbentuk ketika Ikhsan Brilianto, Andreas Diga Pratama Putera, dan Ahmed Reza Rafsanzani sedang mengikuti acara di aula SKB Bantul sewaktu pesantren kilat. Kami yang waktu itu duduk di paling belakang bersandarkan tembok, membicarakan tentang ide awal untuk dikompetisikan dalam NYIA 3. Ide awal yang muncul dari Ikhsan adalah membuat sebuah wind generator yang diletakkan di belakang knalpot dan akan menghasilkan listrik yang disuplai sebagai sumber listrik motor pengganti aki.

Namun setelah ide tersebut dikaji berulang kali, tim menemukan kesulitan untuk merealisasikan ide tersebut. Wind generator harus menggunakan voltage stabilizer karena listrik yang dihasilkan tidak stabil. Akhirnya tim sepakat untuk melupakan ide tentang wind generator dan mengubah ide tersebut menjadi menjadi alat lain yang berguna bagi manusia. Lalu kami memilih tema penelitian tentang perlindungan lingkungan. Sekitar tiga hari googling, tim mendapat beberapa ide tentang pengurang emisi, dan yang tim pilih adalah teknologi plasma di antara teknologi lain, seperti zeolit.

Sebenarnya, tim sendiri juga kurang tahu apa itu plasma, bagaimana wujudnya. Kata plasma sendiri masih agak asing di telinga walaupun sudah pernah dengar. Waktu berjam-jam dihabiskan dengan googling untuk mencari tahu apa itu plasma dan bagaimana bentuknya. Kami mendapat sedikit pencerahan dan dapat sedikit membayangkan seperti apa plasma setelah mengetahui bahwa plasma merupakan wujud zat keempat selain padat, cair, dan gas. Plasma ini dibuat dengan memanfaatkan tegangan listrik, yaitu melalui dua elektrode yang diberi tegangan, sifat konduktor pada udara akan timbul yang secara bersamaan arus listrik mulai mengalir (fenomena ini disebut electrical breakdown) dan partikel yang melewati medan listrik antara dua elektrode akan terionisasi, lalu terikat ke elektrode, dan berubah wujud menjadi padat. Mekanisme kerja alat yang kami buat sebenernya simple: mengikat partikel emisi sehingga emisi yang keluar dapat direduksi. Kami juga bertanya kepada Pak Asrori dan Pak Yanto tentang konsep plasma, namun karena jawaban pak Yanto yang lebih ngedongi, kami memutuskan pak Yanto sebagai guru pendamping.

Sekitar seminggu sebelum deadline (30 Sep 2010), tujuan kami sudah jelas: membuat alat pengurang emisi berteknologi plasma yang efektif, efisien, murah, mudah diproduksi, mudah digunakan, dan portable. Kami menamainya PLASMURATOR, awalnya adalah singkatan dari PLASma MUffler geneRATOR, namun kata “muffler” dihilangkan karena ternyata muffler memang merupakan komponen pada knalpot yang berfungsi sebagai peredam. Sebenarnya, alat pada knalpot untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor memang bukan hal baru, penemuan-penemuan terdahulu tak banyak mendapat tanggapan karena besarnya biaya dan usaha yang harus dikeluarkan untuk merekayasa dan mempertahankan fungsinya.

Sampai pada akhirnya, tim mengumpulkan karya tulis ke LIPI pada 2 Oktober 2010 pukul 14.00, hanya satu jam sebelum deadline yang diundur menjadi 2 Oktober. Kami sebenarnya juga masih ragu apakah alat ini benar-benar bekerja. Sebelas hari kemudian, LIPI memberitahu bahwa PLASMURATOR merupakan satu dari 15 karya yang lolos masuk ke final yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 20-21 Oktober 2010. Tim mulai membuat prototype PLASMURATOR yang terbuat dari bekas kaleng minuman lalu mengujikan prototype tersebut di laboratorium BLH DIY, ternyata hasil yang didapat cukup memuaskan dan mampu menghilangkan keraguan kami pada alat ini. Setelah semuanya siap, tim berangkat ke Jakarta didampingi oleh Pak Yanto. Dalam hal teori pengikatan partikel yang terionisasi, Pak Yanto sangat membantu sekali, semuanya dijelaskan secara santai namun tetap ngedongi.

Pada saat presentasi di hadapan kelima juri, tim mencoba menjelaskan dengan tenang dan sedetail-detailnya untuk memuaskan semua pengunjung dan para juri. Semua pertanyaan juri dapat tim jawab dengan cukup baik, kecuali satu pertanyaan “Kenapa alat ini ditaruh di sepeda motor? Padahal penyumbang emisi terbesar adalah mobil dan truk”. Karena pertanyaan itu diajukan oleh juri pertama, tim sempat gugup dan cemas karena jawabannya yang kurang memuaskan, namun pada juri-juri yang berikutnya, tim dapat mengendalikan situasi. Akhirnya penantian berujung pada sesi pengumuman. Tak kami duga, PLASMURATOR menjadi juara pertama, kami mendapatkan apresiasi berupa medali emas dan kesempatan mengikuti 7th IEYI 2010 di Hanoi, Vietnam. =)

Seusai luapan euforia kemenangan, kami tetap fokus dalam persiapan IEYI, terutama dalam pembuatan PLASMURATOR permanen untuk sepeda motor dan mobil. Riset desain dan pengembangan alat memakan waktu yang paling lama dalam penelitian ini. Dalam hal ini, tim bekerjasama dengan sebuah bengkel las aluminium yang terletak di dekat IKIP PGRI. Kami beruntung mendapatkan tukang las yang terlihat jenius dan membantu kami dalam mendesain PLASMURATOR. Minggu terakhir sebelum keberangkatan ke Vietnam, alat baru jadi, itupun masih ada kekurangan. Tim bergegas menguji PLASMURATOR di laboratorium BLH Kota Yogyakarta, dan menunjukan hasil yang cukup signifikan dalam pereduksian kandungan gas-gas emisi.

Tiga belas Desember kami berangkat ke Jakarta, bergabung dengan empat tim lain dalam delegasi. Keesokan harinya kami sudah mendarat di Hanoi. Sama seperti yang kami lakukan di Jakarta dulu, kami mepresentasikan karya kami dengan jelas dan sedetail mungkin, bedanya kali ini memakai bahasa inggris. Dalam dua hari exhibition, kami menghadapi 8 juri yang berasal dari berbagai negara. Malam penghargaanpun tiba, lagi-lagi dengan tak terduga, kami mendapat apresiasi berupa medali emas. Padahal kami tidak menargetkan untuk mendapat medali emas, yang penting kalau usahanya maksimal, insya Allah hasilnya juga akan baik. Alhamdulillah :D

Indonesia delegations in 7th International Exhibition for Young Inventors 2010 in Vietnam

A. Gold Medal

1. Plasmurator (Plasma-Generator) As Effective And Efficient Pollutant Reducer From Motor Vehicle Emission
By:
Ikhsan Brilianto
Andreas Diga Pratama Putera
Ahmed Reza Rafsanzani
SMA Negeri 1 Yogyakarta

B. Silver Medal

1. Rotating Sprayer Herbicide (Solution for Plantation Problem)
By
Priyanka
Eddy Yuristo NS
REIJEFKI IRLASTUA S.
SMA N Plus 17 Palembang

2.
Fertilizer Pot and Fertilizer Plate: The New Method Of Giving Practical And Hygienic Fertilizer
By
Delphine Yusticia Ratnasari
Erlinda Nurul Kusuma
Maria Fransisca Simbolon
SMA Negeri 6 Yogyakarta

C. Bronze Medal

1.
Paint Brush container
By
Agata Nina Puspita
Revi Serviyani Dina Pertiwi
SMA Stella Duce 1 Yogyakarta

D. Other

1. 2 in 1 Tooth Paste (GOSTA GIGI)
By
Fadhil Andhika Putra
Ilga Yulian Putra
Fajar Satria Pratama
SMA Negeri 3 Padang

Photos Gallery

Read more....

6 Desember 2010

The Power of Blog! Not a Beginning of an End

Ditulis oleh Ahmed Reza Rafsanzani

Alhamdulillah, masih teringat waktu pertamakali mengenal internet dulu -> kelas 7 SMP -> pas pelajaran bhs inggris -> disuruh buat email

tanpa itu, mungkin...tidak pernah aku mengenal yg namanya google, social networking, blog, yahoo, dan segala macam rumah virtual lainnya.

dan mulai saat itu, aku semakin tertarik ke dalam dunia maya yang lebih luas, ya... luas, namun pada saat itu, aku hanya melihat kebanyakan teman2 dan orang2 di sekitarku hanya membuka FS aka Friendster, yg pada waktu itu the most popular site in Indonesia dan the most wastingtime-site in Indonesia - setidaknya menurutku . Gimana tidak? Lha wong orang2 rela menghabiskan waktu berjam2 mengorbankan mata mereka cuma untuk upload foto atau nguthek2 layout profil page yg terisi dengan tulisan blink2, kedap kedip, wernowerni, gambar2 ra cetho, dan tentu saja yang palng melegenda: 4l4y!

Bahkan setiap bel keluar kelas berbunyi, labkom SMP 5 selalu penuh dengan makhluk2 semacam itu, malah sampe antri -_-

What a waste?! waste of time, money, chances!

Dan mulai saat itu, aku benci sama orang yg bukak FS :Peace:
dampaknya, pas kelas 2 SMP, November 2007, di Plasa Telkom samping SMP 5, aku membuat blog ini. Pas waktu itu blog merupakan sebuah kata yang asing di kalangan pelajar dan internet noob. Aku yang tidak membuat akun FS, hanya mencoba melakukan sebuah inovasi, selangkah lebih maju dari FS addicts. Mungkin 2-3 langkah lebih maju, soalnya blog sendiri baru mulai populer pada tahun 2009.

Sebenernya dulu tujuanku ngeblog itu cuma:
1. Mengisi waktu luang
2. Belajar web design basic: belajar bahasa HTML, CSS, JavaScript, dll

Namun aku ingin lebih daripada itu
Berhubung sekarang blog sudah sangat populer, terkadang ada keinginan dalam diriku untuk aktif menulis di-blog.
Walaupun sudah cukup banyak artikel di blogku, tapi kebanyakan masih copas dan sebagian artikel yg aku tulis hanya menggunakan bahasa ngawur tanpa seni propaganda dan tidak bernyawa :P

Oke, sekarang tujuannya bertambah:
1. Untuk latihan menulis (lebih tepatnya mengarang, mungkin beberapa berisi tutorial dan review)
2. Latihan ngetik cepet (top skorku baru 40 words/minute :p)
3. Dengan menulis, dapat melatih untuk berpikir kritis terhadap sesuatu
4. Melatih jalan pikiran kita, nice! (jalan pikiranku dink xD)

And that's all, are called the power of writing, the power of blog!
"Karena dengan menulis kita punya identitas"

I, hereby confirm that I will fill this blog with my ideas and thoughts, and some knowledges in IT and science environment. From now on!

1 Muharram 1432 H - 6 Desember 2010
-Ahmed Reza Rafsanzani-

Read more....

Compuzinov FC Update

My ManagerZone (Compuzinov):

Tiga pertandingan terakhir: