28 November 2007

Bocah Indonesia Menang Lomba Desain Perangko PBB

Bryan Jevoncia, anak SD asal Pontianak, Kalimantan Barat, hari Rabu 17 Oktober 2007, menerima penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Markas Besar PBB, New York, AS. Ia berhasil memenangi lomba desain perangko yang diadakan oleh PBB. Pemberian penghargaan ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon serta sejumlah perwakilan negara-negara asing, termasuk Wakil Tetap RI untuk PBB, Marty Natalegawa.

Bocah kelahiran 16 Desember 2000 ini adalah salah satu dari 6 anak usia 6-15 tahun dari berbagai negara yang desainnya dinyatakan akan dijadikan gambar perangko PBB seri tahun 2008. Lomba yang bertema “Kita Dapat Mengatasi Kemiskinan” itu diikuti oleh sekitar 12.000 peserta dari 124 negara. Lomba ini diadakan dalam rangka peringatan Hari Internasional Pemberantasan Kemiskinan.

Desain perangko hasil karya Bryan menggambarkan anak-anak yang setelah pulang sekolah membantu ibu mereka dengan mencari uang melalui keterampilan mereka menggunakan sisa-sisa bahan pakaian jahitan.

Bryan mengaku dirinya sangat senang bisa mendapatkan penghargaan PBB. Namun, hadiah dari PBB ini dianggapnya belum lengkap karena dia juga menyimpan keinginan lain. “Saya ingin bertemu dengan Pak Presiden,” ujar Bryan dengan malu-malu.

Pada 23 Oktober 2007, keinginan Bryan pun terkabul. Bertempat di Kantor Presiden, Jakarta, Bryan diterima oleh Presiden RI Susilo B. Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. "Ketika Presiden SBY tahu bahwa salah satu keinginan Bryan setelah memenangkan kompetisi tersebut adalah bertemu dengan Presiden, maka SBY pun mengundang Bryan dan keluarganya untuk datang ke Istana," tutur Andi Mallarangeng, juru bicara presiden.

Selain itu, Zyrex, merek komputer nasional, juga memberi penghargaan atas prestasi Bryan. Penghargaan itu berupa sebuah notebook yang diserahkan kepada Bryan pada 14 November 2007, bertepatan dengan pembukaan booth Zyrex di pameran komputer IndoComtech 2007.

25 November 2007

Apa hubungan nanotechnology, rasa bangga, dan 25 ?

Siapa bilang orang Indonesia tidak punya prestasi? Tahukah Anda bahwa salah satu profesor termuda di Amerika Serikat (AS) adalah orang Indonesia? Namanya Nelson Tansu. Pria yang lahir pada 20 Oktober 1977 ini lulus dari SMA Dr. Sutomo I Medan tahun 1995, lulus S-1 dan S-2 dalam Ilmu Matematika Terapan, Teknik Elektro, dan Fisika tahun 1998. Lalu melanjutkan hingga lulus S-3 dari Wisconsin University dan meraih gelar Ph. D. (Doktor) dalam bidang Teknik-Elektro pada Juni 2003. Pria ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya.

Hal yang luar biasa, ia telah diangkat sebagai Asisten Profesor pada Dept. Elektro-Teknik dan Teknik Komputer di PC Rossin College of Engineering & Applied Sciences, Pennsylvania dan di Pusat Teknologi Optik pada Lehigh University, Betlehem, Pennsylvania hanya dua bulan setelah diwisuda menjadi doktor. Kini. Nelson Tansu telah menjadi guru besar penuh (profesor) pada kedua perguruan tinggi yang sangat bergengsi di kawasan Timur Amerika Serikat itu. Mata kuliah yang pernah ia ajarkan antara lain Physics and Applications of Photonics Crystal kepada mahasiswa tingkat Ph. D., Semiconductor Device Physics pada mahasiswa tingkat akhir dan program master, dan Applied Quantum Mechanics for Semiconductor Nanotechnology pada mahasiswa tingkat doktor.

Apakah setumpuk prestasi tersebut membuat Nelson lupa Indonesia? Jawabannya tidak. Ia masih mengaku sebagai orang Indonesia, masih memegang paspor lndonesia, masih sering mengatakan bangga sebagai orang Indonesia dan dalam setiap perkenalan dengan orang yang baru ditemuinya ia masih memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia. Bahkan ia menolak untuk jadi warga negara AS meski ia memenuhi persyaratan untuk itu. Padahal ia akan memperoleh gaji yang lebih besar jika ia mau jadi warga negara AS.

Kisah sukses luar biasa anak Indonesia ini seolah-olah setitik air sejuk di tengah gurun pasir yang panas merangas. Dirgahayu Indonesia!