22 March 2013

Kampanye #earthhour: antara Simbolisme dan Pragmatisme

    Sudah merupakan rutinitas ketika listrik di sebagian belahan dunia padam setiap hari Sabtu  akhir bulan Maret.  Masyarakat dengan bangga rela memenggal aliran elektron  ke perangkat elektronik mereka  demi turut serta dalam kampanye pemadaman massal berlabel Earth Hour.  Begitu pun dengan tahun ini, event yang diprakarsai oleh WWF tersebut diperkirakan akan diikuti oleh lebih dari 160 negara, mengingat tahun lalu, peningkatan partisipan Earth Hour melonjak cukup signifikan dari tahun sebelumnya . Dengan bertambahnya jumlah partisipan tiap tahunnya, bisa dikatakan bahwa Earth Hour semakin memperoleh perhatian dari berbagai kalangan. Hal ini menjadi pertanda bahwa semakin banyak umat manusia yang mulai memperhatikan keterbatasan pasokan energi. Meski bermaksud baik, pada kenyataanya, Earth Hour juga memperoleh banyak kritik dari berbagai pihak.

    Event Earth Hour dinilai tidak memiliki andil yang signifikan dalam peredaman bom waktu kelangkaan pasokan energi, tetapi justru seakan memberi sugesti kepada manusia untuk ‘setia’ terhadap pasokan energi utama pada saat ini, padahal kita tahu bahwa saat ini manusia sedang bergantung kepada non-renewable energy. George Marshall, seorang jurnalis Inggris, mengatakan bahwa memperingati Earth Hour sama saja menginginkan kembalinya peradaban zaman batu. Ia juga menambahkan bahwa seharusnya manusia lebih berusaha untuk segera menemukan dan mengelola energi terbarukan daripada berkecimpung merepotkan diri untuk memanajemen penghematan energi tak terbarukan seperti saat ini. Perkataan Marshall ada benarnya juga. Lagipula, aksi penghematan seperti Earth Hour  tidak akan mengurangi emisi secara signifikan, tetapi hanya menunda emisi untuk jangka waktu yang relatif pendek.

    Tetapi, bila ditinjau dari segi tujuan pelaksanaannya, kampanye Earth Hour sebenarnya dibuat untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai perubahaan iklim yang cukup ekstrem dalam beberapa dekade terakhir, bukan untuk menghemat pasokan energi secara pragmatis seperi anggapan beberapa kalangan. Dalam kata lain, Earth Hour merupakan simbol perhatian manusia terhadap kelestarian alam itu sendiri. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap aksi ini merupakan sebuah usaha besar-besaran dalam menghemat bahan bakar selama 60 menit.  Padahal, konsistensi dan kontinuitas kita dalam menyayangi dan melestarikan alam itulah yang merupakan poin utama di balik sebuah simbolisme Earth Hour. Sebagai penghuni dan penikmat bumi, sudah selayaknnya tugas manusia untuk merawat dan memelihara bumi tidak terbatas pada 60 menit setiap tahun, tetapi sepanjang hayatnya.

10 March 2013

When you compare your words through times

Barusan baca-baca segenap tulisan saya di beberapa thread diskusi saya di kaskus zaman dulu. Ternyata kemampuan penulisan saya improved a lot ya :D haha

Everyone was a n00b, until they keep learning.

post #rapenting btw.