13 December 2014

On My Mind

"What's on your mind?"

"Ngg, banyak."
Entah kenapa kalimat itu sama sekali tak merangsangku untuk menuliskan barang sepatah kata pun di kotak itu.

Tapi siapa sangka, justru formasi kata tersebut kadang membuatku menerka lebih jauh tentang apa yang sedang aku pikirkan.

Memangnya apa yang sedang kaupikirkan?

Tentang UAS dan seluk beluknya?

"Ya."

Tentang potensi gagal KP dan KI liburan esok?

"Mungkin"

Dan juga hiruk-pikuk-pertanyaan-mau-kkn-dimana-padahal-lppm-juga-belum-ngeluarin-listnya, ataupun semacamnya.

Lagi-lagi seperti ini. Lamunan di kala senja yang tak ingin berakhir sebelum ia berjumpa dengan pagi. Alasan klasik.

Di saat-saat seperti inilah, semua hal yang pernah aku pikirkan menyapaku kembali. Tak terkecuali tentang sepi. Ya, sepi. Sepi itu indah. Sepi itu menyenangkan. Semua orang pastilah membutuhkan sepi dalam hidupnya untuk membangun interaksi intrapersonal. Sebagian orang bahkan berjuang untuk menyepi.

Akan tetapi, tak peduli seakrab apapun seseorang dengan 'sepi', akan ada masanya orang tersebut benar-benar merasa sendiri. Sepi bisa berubah menjadi keramaian yang menyebalkan, karena terkadang riuhnya pikiran tak bisa dikendalikan.

Di titik inilah, aku bisa benar-benar merasakannya, tentang betapa pentingnya orang-orang yang menyelinap masuk ke dalam lingkaranku. Lingkaran ini terus membesar, terus melebar, hingga lingkaran itu tak lagi nampak, ia terlalu besar, lalu pudar.

"Kenapa?"

"Mungkin karena ia tak lagi spesial."

"Haha, dasar bodoh."

"..."

"I guess we're just bunch of familiar strangers after all."

Aku hanyalah sedang di sini, meniti mimpiku. Tidakkah kau tahu? Ada jeda yang tercipta di antara kita. Dan apabila jeda itu tiada lagi bersekat, maka saat itu lah...

aku mempunyai dua pilihan: 

aku tak perlu lagi bermimpi tentangmu 

atau 

aku hidup bersamamu di dalam mimpi.

11 November 2014

Harapan

Janganlah terlalu berharap sama orang lain karena pada akhirnya, cepat atau lambat, mereka akan mengecewakanmu.

Dan pernahkah kau berpikir, bahwa di luar sana pastilah ada orang lain yang sedang mengharapkanmu, tapi justru tak kau gubris sama sekali?

Itulah aku, sang manusia penuh harap yang sering menepikan harapan orang lain.
Itulah kamu dan kita, dalam rantai harapan, saling menuai rasa kecewa yang berjejal.

1 November 2014

Dear Procrastinator

Setidaknya ada dua tipe deadliner yang ada di dunia ini.

Tipe yang pertama, yaitu orang-orang yang bekerja keras sampai mepet deadline . Mereka tidak cepat puas, sehingga akan terus memperbaiki pekerjaannya hingga kesempatan yang mereka punya telah habis. Ini baru namanya deadliner sejati. Biasanya mereka adalah pribadi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. The world needs more people like this.

Tipe yang kedua, yaitu mereka yang suka menunda-nunda pekerjaannya. Alih-alih menyelesaikan kewajibannya, tipe yang kedua ini malah lebih suka mengerjakan hal-hal yang sebenernya tidak penting-penting amat. Tipe ini biasanya akan terlihat santai dan kuat menghadapi tumpukan pekerjaan di depan deadline, tapi bakalan bingung sendiri kalau udah mepet deadline. Mereka sering terlena dalam pemikiran delusional “everything is under control” walaupun pada kenyatannya…. chaos. Akibatnya, pekerjaan yang dihasilkan pun hanya sekedar “yang penting jadi”.

Tipe deadliner yang kedua, atau in english biasa disebut procrastinator, adalah penyakit produktivitas akut yang semakin menjangkiti umat manusia masa kini. Mengapa? terlalu banyak distraksi, tentu saja. Internet is everywhere, everyone is connected. Terlalu banyak informasi hingga orang-orang lupa bagaimana caranya fokus. Bahkan, tidak jarang kita mengeluh “too much news in one day” habis marathon liat berita di media. Iya, informasi yang kita dapatkan sehari-hari memang >80% tidak berguna.

Kembali ke persoalan deadliner, sebenarnya saya juga masih sering menjadi tipe kedua. Kemudian datanglah hari itu, hari ketika saya berpikir “Gimana ya rasanya jadi orang yang nggak suka menunda-nunda pekerjaan? Emang di mana letak asiknya jadi ‘wong sregep’?” (sebenernya saya dulu juga cah sregep YK, tapi itu tempo doeloe sebelum sumber internet sudekat).

Ceritanya, mulai hari itu saya sok nyoba-nyoba jadi orang rajin gitu. Saya mulai melakoni pekerjaan lebih awal. Pokoknya semuanya harus dikerjain tanpa keraguan dan dengan hati yang ikhlas! #sikap. Eh, ini serius, sesungguhnya keraguan dan hati yang terpaksa adalah salah satu (atau dua) penghambat terbesar pekerjaanmu.

Perubahan pun mulai terasa tak lama berselang.

Aktivitas seharian yang tadinya grusa-grusu, sekarang bisa jadi lebih kendor bak pake baju kebesaran... isis cah. Alhasil, saya bisa punya lebih banyak waktu buat ngerjain pekerjaan lain. haha. Jangan dikira kalo menyelesaikan pekerjaan lebih awal itu bisa bikin beban jadi berkurang, ga bakal, lebih santai sih iya, tapi kamu bakalan punya extra time buat hal-hal lain, seperti improve pekerjaan kamu, which is nice. 

It's like you're being fully in charge of your life.  It makes you feel peace in mind, strong, competent, and capable, while procrastination makes you feel weak, useless, and helpless

Hoam.

21 October 2014

#justindonesianstudentthings

Saya cuma mau bilang kenapa kebanyakan referensi ilmiah berbahasa indonesia di internet SEDIKIT SEKALI. ToT

Kalian ngiri nggak sih kalo orang luar sana bikin web yang isinya materi belajar lengkap level universitas yang bisa diakses oleh siapapun? Kayak ini atau ini misalnya. Saya belum pernah nemu satupun web semacam itu dari orang atau univ indo.

Ayolah bapak-ibu mas-mbak peneliti/pembelajar/penulis tolong upload ilmu kalian.
mksh


/desperately ngarep

7 October 2014

Ini Apa

Hae
Gue nulis ini dari lobi lantai 2 gedung s2/s3 mipa ugm.
Bukan apa2, cuma sekedar ngetik gak jelas biar keliatan sibuk sama orang yang lalu-lalang di depan lift (ya, gue duduk di depan lift persis) dan lagi ngantuk bianget plus kepanasan.
Kasian ya mereka yang keluar dari lift harus disuguhi pemandangan manusia ga jelas lagi ngetik sambil setengah merem :O
Itu bukan apa-apa, lebih kasian lagi ada orang mau nyalain leptop aja harus nyolokin stopkontak yang tingginya 3 meter :/


 Adapter leptop dan hydrant saling membisu, padahal jejer. Kayak aku sama kamu.

kasian banget ya dia :( *ngelus-elus bathuk e dhewe*

Q: meh, tapi kenapa pula lu ada disini?
A: jawabannya simpel => baru selesai praktikum jam 10 dan lagi nunggu kuliah nanti jam 14.30

Q: heh bukan itu jawabannya. kalo gitu semua juga nunggu kuliah kali med --"
A: Iya, mau nunggu dimana lagi emangnya? di fmipa ruang terbuka buat mahasiswa (terutama S1) itu sangat2 terbatas, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Jadi jangan tanya ke mahasiswa mipa kalo nunggu kuliah di mana, statistically speaking *pret* pasti jawabnya 95% kalo nggak di sekre ukm/hima, balik kos-an, atau gedung s2s3 ini.

Bicara tentang ruang terbuka mahasiswa, sekarang kayaknya mau ada sedikit penambahan tempat 'kongkow' di emperan gedung2 jurusan di kompleks mipa utara. Meski begitu, tempat kuliah utama mahasiswa mipa, gedung mipa selatan, tetep gitu2 aja dengan tempat yang sumpek dan hawa yang panas hahaha.

Kalo di gedung mipa selatan sih udah mentok kayaknya, space buat parkiran aja masih kurang. Beruntung sejak tahun kemaren udah dibikinin ruang tunggu mahasiswa yang ber-AC di mipa selatan which is lumayan.

dan udara siang ini pun semakin memanas...
duh jadi kangen jalan-jalan abroad <3
Aku pengen hidup di negara subtropis! semoga :)

Udah ah, syudah jam 2, mari kita kuliah~

18 September 2014

cerita dari semester 5

Scroll timeline, liat foto2 kakak-kakak angkatan yang baru aja ikut pendadaran, eh ternyata mata saya ikut berkaca-kaca juga. Iya, saya sadar kalo saya udah tahun ke-3 kuliah, lagi berada masa-masa puncaknya menjadi seorang mahasiswa. Ngurus inilah tugas itulah, pasti ada-ada aja yang bikin begadang. Dan liat foto2 itupun kembali mengingatkan saya, bahwa saya sedang berada di ujung jalan kehidupan 'santai', yaitu kehidupan yang masih bergantung sama ortu.

Begitulah, waktu tak berhenti berpacu. Sebentar lagi, aku, kamu, dan kita akan memulai perjalanan yang baru, tapi kali ini berlayar dalam dunia masing-masing.  Siap-siap saja bergumam "Lagi-lagi perpisahan, lagi-lagi lingkungan baru, lagi-lagi orang-orang baru." Semuanya datang silih berganti bak deruan ombak yang tak mengenal sunyi. Pun begitu dengan rindu dan kenangan, semuanya akan terbingkai dengan indah ketika kita mencoba menghadirkannya kembali.

Pengen ketawa lepas tanpa beban seperti anak kecil lagi? gak bisa
Pengen santai hepi-hepi sakpole bareng temen2? Bisa sih, dikit, lalu perasaan bahagia itu akan sekejap menghilang ketika kita mengingat tanggung jawab kita esok hari.
Ya mau gimana lagi, emang udah bukan masanya kan ya :')

Jadi keinget: 
Besok saat menginjak usia 20 tahun, kamu akan memiliki pandangan yang jauh lebih luas dan berbeda. Sensasi yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Life begins at twenty.

Haha. Ya udah.
Saatnya kembali ke realitas *brb nggarap proposal*
--"

22 July 2014

Typical Student Regret(s)

Akhir semester, seperti biasa, ketenangan liburan harus diusik dengan munculnya salam hangat dari dosen tercinta di portal akademik. Dan lagi-lagi, banyak kejutan yang bermunculan. Yang diharapkan dapat A ternyata dapet B, yang diprediksi B eh malah A. Itu masih mending, daripada semester lalu, ada matkul yang saya yakin banget dapet A, eh keluarnya malah C (dan sampai sekarang masih gak habis pikir, ceritanya).

Karena lagi selo, saya cermati lagi persebaran nilai yang saya dapatkan selama kuliah 4 semester kemaren, ternyata lebih dari setengahnya 'cuma' dapet nilai B. Padahal, kebanyakan matkul yang dapet nilai B justru sudah saya targetkan dapet A di awal semester. Dan lucunya, matkul yang dapet nilai A kebanyakan justru matkul yang saya sendiri kurang yakin bakalan dapet A.

But, whyyy? :(

Nah, I had no idea how my grades haven't improved much since 1st semester. It looks like a downhill, actually. I worry much when it comes to waiting results of my courses. My holiday isn't really enjoyable since i have to think about these grades.

Saya memutuskan introspeksi lagi~
then I realized, I have always put same effort (or even less) in every semester. I did same sht every day:
telatan, males review materi, males memperhatikan, ngantukan, repeat.
Rasanya kalo kuliah yang saya hadiri itu cuma buat tandatangan tok, terus udah --"
Mana semangat mencari ilmu? Seperti kamu yang dulu yang gak akan senang pulang ke rumah sebelum dapet ilmu baru.

Mungkin saya lagi kehilangan semangat dan motivasi di tempat ini.
Lain dari waktu sekolah dulu, di sana motivasi seperti diberikan secara cuma-cuma oleh lingkungan. Aku rindu lingkungan yang mendukung seperti itu. Tempat di mana orang-orang beraksi dengan penuh semangat hingga menular ke orang-orang di sekitarnya. Saking asyiknya hingga terasa seperti terjebak di dalam dunia orang-orang hebat. Bahkan, mungkin aku merem pun masih bisa berlari dengan mendengar kemana gemuruh langkah kaki di sekitar menuju. (Eh, nek iki lebay tenan)

Basically, I lost the path. Oh wait, I already know the path.
I just need greater motivation to walk along the path.
I need someone to cheer and raise me up. #salahfokus

Yeah sure, everybody needs that, but for now, it's myself that needs to change.
Selain buat kebaikan diri sendiri, ini juga sebagai bentuk tanggung jawab karena kuliah masih dibiayai ortu, sehingga adalah kewajiban saya untuk membuat mereka bangga dengan proses maupun hasil perkuliahan saya.

Jadi mulai sekarang, seseorang tolong tampar saya kalo saya malas kuliah~ HAHA #guyon
Gimana enggak, nilai-nilai semester ini bagaikan reality check buat saya.

I keep telling this to myself.
No more laziness please, no more 'usaha nanggung' for my own sake.
Semoga (masih) bisa lulus dengan predikat cum laude. Eh, harus dink. Aamiin.


He who doesn't give it all, gives nothing.

btw, ada temen yang share artikel bagus: How to Not Waste Your Life at School

11 July 2014

Sebuah Catatan tentang Menulis

Aku seringkali menghapus paragraf yang baru saja aku selesaikan. Aneh memang. Sepertinya ada perasaan ragu terhadap apa yang aku tulis. Entah itu dari segi kontennya maupun tatanan bahasanya. Setelah aku telisik lebih jauh dan tulisanku aku baca ulang, ternyata perasaan aneh itu timbul karena hati kecilku berbisik: "tulisan kamu jelek!" haha. Yang dimaksud 'jelek' di sini adalah tidak beraturnya alur gagasan pada paragraf sehingga esensi yang disampaikan penulis tidak sekuat/sejalan dengan apa yang diterima pembaca.

Tapi, atas dasar apa pula tulisan tersebut aku bilang jelek? Bukannya ini jaman serba kontemporer? Jamannya batas-batas definisi dipermainkan sesuka hati?

Iya emang, tapi tetap saja ada 'protokolnya'. Ada standar yang berkembang dan diterima oleh kelompok masyarakat tertentu. Katakanlah nulis makalah untuk keperluan ilmiah standarnya begitu, kalo nulis novel standarnya lain lagi. Ya standar semacam itulah yang sudah jelas bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat yang terafiliasi. Kalo standar itu nggak dipenuhin, ya jangan harap mau diterima dengan baik oleh pembaca.

Nah, persoalannya, bagaimana caranya agar kita bisa 'menaklukan' standar-standar tulisan tersebut?
Jawabannya sebenarnya simple, yaitu belajar. Belajar apa? belajar rajin membaca.
Di "Inspiring Words for Writers" ada quote yang bilangnya gini

"Aku heran dengan orang-orang yang ingin menjadi penulis besar, tetapi membaca buku yang sangat kecil saja enggan."

uwow, itu dapet banget feelnya. Kalo mau jadi penulis yang baik ya belajarlah jadi pembaca yang baik. Kalo mau jadi guru ya harus jadi murid dulu.

Nggak cuma itu, belajar menulis pun juga banyak tantangan yang harus ditaklukan. Salah satu hal yang (mungkin) sering mengacaukan mindset menulis ialah tulisan-tulisan yang ada di media sosial. Misalnya di twitter, orang dengan mudahnya bisa menuangkan buah pikiran mereka dalam serangkaian twit. Bagus sih, orang-orang bisa lebih menyuarakan pendapat mereka dengan langsung menulis poin-poin penting dari inti gagasan. Tapi tanpa disadari, perilaku ini bisa membuat kita berpikir pragmatis yang juga berpengaruh pada cara menulis, hingga akhirnya banyak orang lupa bagaimana cara menulis paragraf yang baik dan koheren.

Selain itu, ada lagi tantangan menulis yang (kayaknya) semua orang pernah mengalami, yaitu bingung harus bagaimana memulai tulisan. Ini masalah klasik. Orang-orang terlalu sibuk mencari kalimat pembuka, padahal, kalimat pembuka terbaik seringkali justru adalah apa yang sedang dipikirkan. Alih-alih dituangkan ke dalam tulisan, orang-orang malah 'menyimpan' apa yang ada di dalam pikiran tersebut untuk dijadikan 'kejutan' yang akhirnya sering tidak terwujud karena kesibukan mencari kalimat pembuka.

Ini bener-bener jadi pelajaran penting buat aku sendiri, mengingat yang minat bacaku yang masih tergolong (sangat) rendah tapi pengen bikin tulisan bagus. Aduh.

23 June 2014

Bliss

hai
tahukah kamu?
terkadang aku bertanya perlukah aku menyapa hari ini
saat pagi memilih untuk tetap tegar dengan kesunyiannya
meski aku tak henti-hentinya berceloteh tentang
langit-langit hati yang digantung akan kerinduan

lalu tahukah kamu,
seringkali aku bingung harus mengenang apa hari ini
ketika senja mulai terlelap dalam bayang rembulan
aku dan kamu saling melempar senyum
berjalan bergandengan dalam khayalan

tapi tahukah kamu


kita dipertemukan bukan karena kebetulan

#efekUAS :p

28 May 2014

Tentang Mimpi

Bermimpi memang menciptakan misteri.
Terkadang, tak semua yang kita impikan jadi kenyataan.
Tak jarang juga, apa yang kita impikan justru terjadi dengan sendirinya, dengan atau tanpa kita sadari.

Aku pun suka bermimpi, berkhayal, menembus tebalnya tembok realitas yang dibangun atas persepsi orang lain.
Mereka menyebutnya daydreamer.
Yes, I'm a daydreamer. Actually, a big one. I do a lot of thoughts.
Aku berani menciptakan duniaku sendiri. Sembari membayangkan dimensi ruang dan waktu yang terlipat dengan mudahnya di dalam pikiranku. Aku bahkan terbuai oleh kelihaianku ini.

Hingga akhirnya, aku menyadari, bahwa aku sedang terbenam oleh khayalanku sendiri.
Angan-angan yang selama ini terurai dari pikiranku, perlahan memudar karena tak kuat oleh dinginnya realitas busuk yang mengikis pondasinya. Pelan namun pasti, aku mulai kehilangan setiap detail. Sulit rasanya melepas sesuatu yang telah dibangun sedemikian rupa, meski ia hanya sebatas khayal sekalipun.

Namun saat mataku terbuka lebih lebar, aku bergegas menyadari bahwa masih ada angan-angan yang tertinggal di ujung sana. Ia masih berdiri dengan kokohnya. Alih-alih ikut terkikis, Ia justru melebur dengan realitas itu.

Dia lah residu angan-angan, yakni sisa-sisa mimpi yang dibangun atas realitas.
Aku menyebutnya mimpi yang terwujudkan.

16 May 2014

Ice Breaking

Jadi ceritanya...

Saya bukanlah orang yang jago basa-basi, terutama sama makhluk yang namanya cewek.
Cewek? Iya, kadang kita bertemu, tapi tak sampai tuk bertegur sapa, bukannya saya besar kepala, tapi hanya terpana #plak. Gak dink. Saya cuma menghindari kemungkinkan terjadinya situasi-situasi canggung yang mungkin akan cukup sangat aneh bila terjadi.

Bayangin aja, udah berhadapan dengan lawan bicara tapi ga tau harus ngomong apa, karena emang ga ada yang mau diomongin. Akhirnya kamu pun terpaksa meracau dengan mengucap benda random yang ada di sekitar >.<

Kalo situasi canggung itu terjadi sama cowok sih ga masalah, masih bisa diakalin pake guyonan nanggung plus ketawa maksa. Trus kalo sama cewek? heuheuheu I just can't handle it (at least for now), kalo salah berucap mungkin bisa menentukan image-mu di mata mereka. Selamanya. Eh gak juga sih. Ya udah mendingan diem aja kali ya :P

Akibatnya? ketemu orang yang dikenal, niatnya sih  mau nyapa, eh keburu situasi canggung, akhirnya cuma buang muka XD

Imbasnya anyep pun menyergap dengan seketika. Kemudian atmosfer berubah menjadi anyep.
Di tengah situasi itu, tiba-tiba seseorang menyeruak.
"Halo"
Deg.
Kalo ngomongin ini dia bad mood gak ya
Kalo ngomongin itu dia tersinggung gak ya
Gimana kalo gue diem aja dan pura-pura gak denger
Ah..
Mungkin diriku yang terlalu berhati-hati,
hingga muncul pertanyaan dalam pikiranku,
begitu bersinar kah pribadi seorang wanita di hadapanku hingga mampu menyurutkan keberanianku? bahkan hanya untuk menyapanya sekalipun?

Not really, or maybe,
you're just waaaaay out of my league.

Ya, barangkali memang begitu adanya.
Itu pun tak jadi masalah.
Selagi aku masih bisa berlari menandingimu, mari berlari bersama setelahnya ;)



#malahngopo #racetho #karangyoselo haha

8 May 2014

Nikmatnya Merasa Terpelajar

Halo,
lama tak bersua melalui media ini,
dikarenakan sang penulis yang (sok) sibuk ngurus ini itu,
tapi di sela-sela ke(sok)sibukan itu, minggu ini dapet pelajaran yang wenaak banget lah
bukan cuma pengalaman diri sendiri aja, tapi juga pengalaman yang terjadi pada teman maupun lingkungan sekitar saya,
intinya sih jangan takut untuk berusaha, jangan ragu untuk mencoba berpendar dengan dirimu sendiri
karena toh semua ada balasannya. Somehow it makes me feel stronger.
Seperti quote-nya seseorang: kesuksesan adalah residu dari usaha. Sebenernya saya udah pernah nulis topik ini dulu, tapi ya waktu itu cuma jadi uap pikiran semu sih haha

Ada baiknya observasi lagi segala hal di sekitar dengan lebih jeli,
maka kamu akan menemukan jauuhh lebih banyak alasan untuk bersyukur daripada menggerutu :D

23 April 2014

Yang Terpajang


Layaknya kertas yang ditulis dengan batangan grafit berulang kali.
Berdebu dan enggan melekat selamanya.
Sehingga ia semakin memudar  diterpa waktu -- yang bahkan sama sekali tak runcing -- dengan iramanya yang mematikan.

realizing...
Akhirnya kamu menyadari,
kalo kamu membutuhkan goresan tinta dari langit.

awakening...
AH, ternyata bukan cuma anak abege aja yang bisa krisis identitas ya....
Beruntungnya, semua sudah lengkap terpajang.

20 March 2014

Bikin Jalan Sendiri

Pernahkah kamu merasa beruntung atas jalan yang tidak jadi kamu pilih? Maksud saya frase-frase seperti "Untung dulu aku begitu, kalo gak begitu mungkin aku gak akan begini :)"  atau semacamnya.

Kalo iya, congratulazione! Karena mungkin kamu berada pada pilihan yang benar.

Jelas, setiap manusia pernah dihadapkan dengan persimpangan jalan di hidupnya. Ini masalah pilihan hidup. Dulu ketika masih remaja  (yes, we're older than ever), saya terlalu memikirkan pilihan-pilihan hidup yang tersedia. Pada awalnya, saya berpikiran kalau menimbang bibit bebet bobot atau apalah serta memperhitungkan risiko dan peluang suatu pilihan merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara mendalam.

Misalnya, ketika saya terkadang berada di depan dua  jalan yang terlihat memiliki ujung berdekatan, maka saya akan mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan risiko dan peluang. Cara kayak gini memang enggak salah, sah-sah aja dilakuin. Namun, ketika kamu mulai terlalu lama berkutat dengan segala hal yang belum pasti kayak peluang dan risiko, well, you're likely wrong on so many levels. Life is unpredictable, you know lah.

Overthinking kayak gitu justru bikin kamu enggan untuk melakukan decision-making. Gara-gara pikiran yang dibuat-buat njlimet itulah, akhirnya kamu cuma diem di persimpangan jalan itu, enggan melangkah ke depan, atau bahkan memilih untuk mundur.

Semakin ke sini (baca: tua) saya semakin menyadari suatu hal. Bahwasanya, sebenarnya kita nggak perlu takut untuk mengambil pilihan hidup. Kita gak perlu bimbang dalam menjalani jalan yang udah di depan mata, karena setiap jalan yang kamu lalui pastilah ada misi tersendiri, ada achievement unik, serta bakalan banyak surprise yang terjadi.

Beda jalan, beda tantangannya, beda pula apa yang akan kamu dapatkan. Yang penting, asalkan niatnya baik dan prosesnya oke, pasti bakalan dapet achievement dan reward yang baik juga.

Once again, life is unpredictable. Hidup penuh dengan kejutan tak terduga.

18 March 2014

Ilusi Ruang tak Hingga

Masih teringat hari kemarin, di kala jarum jam menunjukan pukul empat kurang sekian. Satu per satu kursi di ruangan penuh dari belakang, diikuti dengan wajah-wajah yang cemas tak bisa bersembunyi saat sang guru diduga akan melontarkan berbagai pertanyaan maut nan menjebak di kelas nanti. Di saat yang bersamaan, sebagian mahasiswa berharap dirinya dapat bertemu dengan Mario Teguh KW #eh.

Sejenak kemudian, mahasiswa tersebut kecewa karena tokoh idaman KW nya tersebut tak dapat hadir pada hari itu. Alih-alih sang guru yang datang, justru asistennya lah yang datang menggantikannya. Namun, seperti biasa, sang asisten pun hanya memberikan tugas kepada para mahasiswa dalam sekelebat cahaya OHP, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan dengan muka dinginnya. Ruangan pun riuh dengan cekikian dan wajah-wajah yang sumringah dalam hitungan detik.

Di tengah kebahagiaan kecil yang tercipta, mereka teringat kalau masih harus menanggung beban yang diberikan oleh sang asisten. Tiga butir soal dengan anak soal A dan B telah terpampang jelas tepat di depan mereka. Sementara itu, aku hanya mengernyitkan dahi, lalu terdiam seperti biasa, sembari menunggu kebaikan teman-teman di sekitar yang rela disamakan jawabannya. Tapi ternyata mereka juga masih kebingungan untuk menjawab soal tentang peluang -- sebuah pelajaran SMA yang terlupakan. Tak terasa satu-dua soal pun berlalu setelah berdiskusi dengan manusia di kanan kiri.

Hingga pada akhirnya tersisalah satu nomor: soal nomor 3. Soal yang dianggap termudah dari semuanya. Soal yang sesungguhnya minggu lalu sudah diberikan sebagai tugas yang harus dikumpul pada hari itu. Soal yang menanyakan peluang sebuah koin yang berhenti menghadap muka apabila dilempar sebanyak 5 kali. Soal yang jawabannya mungkin setengah atau sepersekian. Soal yang bikin chaos satu kelas. Soal yang mulai dikerjakan and everybody loses their mind.

Kelihatannya soal tersebut cukup untuk membangkitkan pikiran absurd orang-orang yang mengerjakannya. Bagaimana tidak? Buktinya, ada beberapa jawaban teman yang cukup aneh. Salah satunya, ada yang mengatakan ruang sampel pada soal nomer 3 adalah 'tak terhingga'. Mungkin dia tidak sadar, bahwa menyatakan ruang sampelnya 'tak terhingga' itu sama saja mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini termasuk dalam ruang sampelnya. Kalaupun jawaban 'tak terhingga' itu benar, berarti peluangnya adalah limit nol atau tidak mungkin. Bayangin aja, kamu melemparkan koin tapi tidak mungkin koinnya jatuh menghadap muka? Mungkin koinnya emang gak punya muka. Atau mungkin dia sedang lapar. Mungkin peribahasa kontemporer "logika butuh logistik" memang benar adanya. Ah, entahlah, aku juga lagi kesepian kelaparan kyknya, makanya nulis gak jelas gini kan....


have you ever felt so lonely that you'd fill your thought with any unnecessary things ?

have you ever felt so lonely that you'd try to fake your memories so you can feel better ?


Well, me neither. But I lied.

lol
jk



17 March 2014

Math of Universe


Seeing problems objectively will make a great boost to solve them. Because, sometimes, the problem is you. It's yourself that have made everything seems messed up :D

Since anything in this world can be modeled with math equations, this meme should relevant to any 'worldly' problems.

7 March 2014

people nowadays

generation of mankind in a picture
***
Yaaah kita tau kan mana yang bener mana yang salah. Tapi masih aja sering nyari pembenaran.
"Yang penting sama-sama enak". Itu sudah :))

Pernah merasakannya? Pastinya semua orang pernah. Sebagian kecil berubah. Sebagian keep in self-denial. Sebagian lainnya antipati. Sebagian menderita stockholm syndrome. Dan sisanya, juga yang paling umum, berubah jadi hipokrit. Hahaha.

Memang, yang namanya manusia lebih suka kebohongan yang menyenangkan daripada kebenaran yang menenangkan~

19 February 2014

wew

Duh, malem-malem gini kepikiran hal-hal yang mestinya dilakuin sejak masih SMA:
1. ancang-ancang cari pasangan hidup temen sekolah
2. get in touch with your crush
3. marry her in the future

kenapa gak kepikiran dari dulu --"
seharusnya kamu sadar kalo masa SMA itu paling cocok buat show off diri kamu (baca: promosi diri)
*facepalm*

13 February 2014

mbrambangi nonton iki :'(

----------------------------------------------------------------------

sebuah kisah orang baik yang terjebak dalam sistem yang busuk

***
sekalinya kamu menduduki kursi pemerintahan,
jangan kaget kalau kamu akan  mendapat tawaran suap, tawaran korupsi, rekayasa proyek, dsb.
kalo kamu mengikuti tawaran2 tersebut, hampir bisa dipastikan kursimu akan semakin nyaman.
lalu kalo menolak? bwahaha. mereka pun akan berkonspirasi menjatuhkanmu
ini aja baru level kota.
lalu bagaimana dengan level negara?
apa yang terjadi kalau pemerintah negara kita "menolak" diobok2 oleh "mereka"?
ya itu, Mesir sama Syria contohnya
udah ricuh di dalem malah dikomporin dari luar -_-


nah lho, mending hidup enak dalam penjajahan atau hidup menderita dalam kemerdekaan abadi?

12 February 2014

tentang demokras**t

IMO
kalo sistem utamanya masih sama
siapapun yang berada di dalamnya ya sama aja

kalo sistemnya busuk
apapun inputnya, outputnya akan cenderung busuk juga
kasihan kan orang baik yang terjebak dalam sistem itu

orang amrik bilang:

"choosing democrat or republican will not change this, only revolution can"

sistem demokrasi itu mudah disusupi
mudah dijadiin boneka
mudah dipecah belah
mudah diadu domba
hanya demi kekuasaan semu
yang sesungguhnya cuma jadi mainan
oleh mereka yang memiliki sistem

saya benci mengatakannya
tapi itu adalah fakta






source: kaskus

7 February 2014

Playing Flappy Bird

Decided to install Flappy Bird v1.3 in a Galaxy Tab.
I just wanted to try it out. This is what I got after ~15 minutes playing


and the next game


but I think It's not enough


and when I put more effort and patience, 9 minutes later...


I got 124. Almost a double from the previous high score! :D
I was lucky enough to score 100+ in less than an hour from the first time playing.
And then I tried to break my own record, but all I got was only 71.


Enough with this game. I don't think I wanna play it anymore -_- lol

3 February 2014

Sistem Ekonomi Riba - Biggest Scam in the History of Mankind

aaaa
aaaa

--
Quote:Original Posted By czv.rz
thread yg mantab. Wajib disundul kalo perlu dijadiin HT sampe sebulan

Uang yg bener adalah emas. Rupiah sama dollar itu bukan uang, tapi cuma mata uang (currency).
Dan yang namanya mata uang ini cepat atau lambat pasti akan selalu melemah purchasing powernya. Rededominasi itu cuma alibi aja buat nutupin nilai mata uang yang selalu merosot.

coba deh liat video ini bagus banget wajib ditonton
biar paham bagaimana 'kebusukan' bank dan sistem ekonomi dunia yg bekerja saat ini
                           Currency is The Biggest Scam In The History Of Mankind                                    https://www.youtube.com/watch?v=iFDe5kUUyT0



Playlistnya (dari episode 1 - episode 5) ada di sini:
                                    https://www.youtube.com/playlist?lis...1VbFzgwrq1jkUJ
Di video itu ada sejarah uang dan mata uang dari jaman mesir kuno sampe federal reserve bank. Termasuk alasan kenapa masyarakat terdahulu menggunakan emas, lalu berpindah haluan ke mata uang, terus sekarang akan kembali ke emas lagi. Wajib tonton deh pokoknya, you'll never regret this. 
Dan di balik itu semua, yang paling berkuasa di dunia ini adalah orang2 yang punya bank

currency will come to an end soon
ayo cepet2 beli emas
--

sad but true itulah kenyataannya sistem ekonomi riba
selama masih pakai mata uang kertas atau semacamnya, semua orang yang ada di dunia ini riba gan
kamu, aku, dan kalian untuk saat ini memang tak bisa terhindarkan dari riba
yang hanya bisa kita lakukan adalah meminimalisir dosa riba tersebut, salah satunya dengan bersedekah

mari bersedekah gan
--
Quote:Original Posted By bukanfabian


Untuk tahu jawabannya agan cukup duduk tenang. Kalau perlu minum dulu segelas air biar segar. Bila sudah tenang ajukan pertanyaan ini:


-Bagaimana manusia dulu hidup sebelum ada asuransi?
-Bagaimana manusia dulu hidup sebelum ada KB?
-Bagaimana manusia dulu hidup sebelum ada vaksin?
-dst....


Kalau bisa berpikir cukup tenang, maka agan bisa temukan jawabannya, yaitu manusia tidak butuh semua itu untuk hidup. Kalau manusia butuh segala hal tersebut, maka sudah lama manusia akan punah sebelum ada asuransi, KB, vaksin, dst.

Sekarang bisakah agan menanyakan hal yg sama tentang uang kertas berbasis hutang?

Alasan kenapa banyak orang gak tau bagaimana harus hidup adalah: Takut. Inilah kenapa pemerintah butuh teror, kalau tidak semua orang tidak akan membutuhkan pemerintah berikut dg siapapun tuan dibaliknya (bankir).


-Kita dibikin takut rugi, lalu mereka sodorkan asuransi.
-Kita dibikin takut punya anak banyak, lalu mereka sodorkan KB.
-Kita dibikin takut virus (contoh flu burung), lalu mereka sodorkan vaksin.
-dst....

Teror terbesar adalah kita dibikin takut gak punya uang, lalu mereka sodorkan uang kertas. Lihat disekeliling kita. Makanan tumbuh dari tanah. Ternak gemuk juga makan dari yg tumbuh di tanah. Tapi sekolah menghilangkan keahlian paling dasar dari manusia, seperti memproduksi makanan. Padahal setiap hari kita bertingkah-laku seperti robot: Bangun jam sekian, berangkat kerja jam sekian, pulang jam sekian, gajian tanggal sekian. Semua untuk apa? Untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: Makanan, pakaian, rumah, baru setelah itu kebutuhan lain. (Ini adalah contoh. Buat contoh lain, gunakan akal agan).

Agan itu kaya. Kalau punya tanah, maka itu harta agan. Kalau punya emas, maka itu harta agan. Kalau punya ternak, maka itu harta agan. Kalau punya sumur, maka itu harta agan. Sekarang lihat perusahaan-perusahaan menjual, seperti air dan makanan ke kita. Kita tidak membutuhkan uang para bankir untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Banyak diantara kita yg bisa memproduksi kebutuhan sendiri, sementara kebutuhan lainnya bisa diperoleh dari pertukaran produksi. Selanjutnya kita punya emas sebagai penentu harga. Oleh karena itu jangan biarkan emas nganggur jadi batangan. Ubah jadi koin dan gunakan sebagai uang. Jangan mau ditukar dg kertas-kertasan.

Masih takut? Lakukan latihan ini untuk menghilangkannya: Matikan TV (Kalau dibuang lebih baik).

TV adalah mesin teror dan propaganda no 1 milik mereka. No 2 adalah sekolah. Sebulan saja gak nonton TV, maka agan gak bakal ikutan ngobrol segala hal yg sedang ditakutkan atau bikin resah masyarakat. Malahan seringkali agan malah gak tahu, mereka ini sedang ribut apaan sih. Segala masalah di TV adalah masalah yg mereka desain. Tentu saja mereka juga yg akan bikin "solusinya" dan itulah poin dari semua keributan ini. Ada kejadian ini, muncul UU-nya. Ada kejadian itu, muncul proyeknya. Ada penyakit anu, muncul vaksinnya dan agan buru-buru beli dan suntik padahal gak sakit apa-apa. Kapan selesainya? Tidak akan pernah, karena itulah teror perlu dipelihara. Biar agan terlalu takut untuk hidup tanpa mereka.

8 January 2014

big mouth on TiVi has gained its fame

Lama gak nonton tivi, sekalinya nonton pas acara H*tam Put*h di TR7.
Kebetulan acara itu menghadirkan F*rh*t Abb*s sama DP.

Baru kali ini saya liat orang yang bernama F*rh*t Abb*s di televisi (sebelumnya cuma sekedar tau dari socmed). Dari caranya bicara dan berargumen, keliatan banget dia ini tipe orang yang gak mau kalah, haram untuk mengalah. Dia memuaskan dirinya dengan membicarakan dan memojokkan orang lain. Apalagi gaya ngeles sama counter-argumentnya itu konyol banget, terlalu imajinatif, kebanyakan omong kosong, bikin ngakak sekaligus emosi. Sebenernya sifat kayak om FA ini bisa dimaklumi kok..... seandainya dia masih anak-anak. Entahlah, mungkin pertumbuhan volume otaknya tak sebanding dengan pertumbuhan badannya. Atau bisa jadi dia ini kebalikannya Conan, sebenarnya dia adalah seorang anak-anak yang terjebak dalam tubuh dewasa #duh

Biasanya sih karakter kayak om FA itu muncul karena orang yang bersangkutan jarang atau bahkan gak pernah introspeksi, gak pernah melihat ke bawah, gak pernah ngaca. Keliatan banget dia ini gak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap ucapannya atau aftermath dari omongannnya. All he cares is just trying hard to win over somebody's arguments, even if his arguments are wrong. Coba aja tipe orang kayak gitu dikasih pertanyaan yang bikin dia terpaksa melihat dirinya sendiri, semisal "apa kekurangan yang ada pada diri anda?","apa yang orang lain banggakan terhadap anda?", atau "seberapa bersyukur kah anda?", pasti dia akan kesulitan menjawab. Bahkan di acara itu, hostnya (DC) sempat melemparkan pertanyaan "Kalo kelebihan anda apa?" ke om FA ini. Dalam beberapa detik, si FA ini langsung diem gak bisa jawab haha, tapi seperti biasa, dia mulai membual dengan jawaban yang gak ada hubungannya.

Cara menghadapi orang kayak gini tuh sebenernya gampang, tinggal tell the truth, nasehatin, senyum, diem aja, dan bersabar. Mungkin kamu sakit ketika mendengar omong kosong orang tersebut, tapi ketahuilah bahwa orang tipe kayak gitu sebenernya lebih sakit kalo didiemin. Biarkan dia memperlihatkan kebodohannya sendiri di depan publik. Kelak dia akan segera syadar dan bertaubat. (applicable in most cases)

In the end, ternyata orang ini lebih lawak daripada yang saya kira. Selamat, Pak! Anda memang cocok jadi capres republik badut :))

PS: Name censored to avoid google or webcrawlers tagging this post with dat name. Yes, stop making stupid people famous. lol