20 March 2014

Bikin Jalan Sendiri

Pernahkah kamu merasa beruntung atas jalan yang tidak jadi kamu pilih? Maksud saya frase-frase seperti "Untung dulu aku begitu, kalo gak begitu mungkin aku gak akan begini :)"  atau semacamnya.

Kalo iya, congratulazione! Karena mungkin kamu berada pada pilihan yang benar.

Jelas, setiap manusia pernah dihadapkan dengan persimpangan jalan di hidupnya. Ini masalah pilihan hidup. Dulu ketika masih remaja  (yes, we're older than ever), saya terlalu memikirkan pilihan-pilihan hidup yang tersedia. Pada awalnya, saya berpikiran kalau menimbang bibit bebet bobot atau apalah serta memperhitungkan risiko dan peluang suatu pilihan merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara mendalam.

Misalnya, ketika saya terkadang berada di depan dua  jalan yang terlihat memiliki ujung berdekatan, maka saya akan mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan risiko dan peluang. Cara kayak gini memang enggak salah, sah-sah aja dilakuin. Namun, ketika kamu mulai terlalu lama berkutat dengan segala hal yang belum pasti kayak peluang dan risiko, well, you're likely wrong on so many levels. Life is unpredictable, you know lah.

Overthinking kayak gitu justru bikin kamu enggan untuk melakukan decision-making. Gara-gara pikiran yang dibuat-buat njlimet itulah, akhirnya kamu cuma diem di persimpangan jalan itu, enggan melangkah ke depan, atau bahkan memilih untuk mundur.

Semakin ke sini (baca: tua) saya semakin menyadari suatu hal. Bahwasanya, sebenarnya kita nggak perlu takut untuk mengambil pilihan hidup. Kita gak perlu bimbang dalam menjalani jalan yang udah di depan mata, karena setiap jalan yang kamu lalui pastilah ada misi tersendiri, ada achievement unik, serta bakalan banyak surprise yang terjadi.

Beda jalan, beda tantangannya, beda pula apa yang akan kamu dapatkan. Yang penting, asalkan niatnya baik dan prosesnya oke, pasti bakalan dapet achievement dan reward yang baik juga.

Once again, life is unpredictable. Hidup penuh dengan kejutan tak terduga.

18 March 2014

Ilusi Ruang tak Hingga

Masih teringat hari kemarin, di kala jarum jam menunjukan pukul empat kurang sekian. Satu per satu kursi di ruangan penuh dari belakang, diikuti dengan wajah-wajah yang cemas tak bisa bersembunyi saat sang guru diduga akan melontarkan berbagai pertanyaan maut nan menjebak di kelas nanti. Di saat yang bersamaan, sebagian mahasiswa berharap dirinya dapat bertemu dengan Mario Teguh KW #eh.

Sejenak kemudian, mahasiswa tersebut kecewa karena tokoh idaman KW nya tersebut tak dapat hadir pada hari itu. Alih-alih sang guru yang datang, justru asistennya lah yang datang menggantikannya. Namun, seperti biasa, sang asisten pun hanya memberikan tugas kepada para mahasiswa dalam sekelebat cahaya OHP, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan dengan muka dinginnya. Ruangan pun riuh dengan cekikian dan wajah-wajah yang sumringah dalam hitungan detik.

Di tengah kebahagiaan kecil yang tercipta, mereka teringat kalau masih harus menanggung beban yang diberikan oleh sang asisten. Tiga butir soal dengan anak soal A dan B telah terpampang jelas tepat di depan mereka. Sementara itu, aku hanya mengernyitkan dahi, lalu terdiam seperti biasa, sembari menunggu kebaikan teman-teman di sekitar yang rela disamakan jawabannya. Tapi ternyata mereka juga masih kebingungan untuk menjawab soal tentang peluang -- sebuah pelajaran SMA yang terlupakan. Tak terasa satu-dua soal pun berlalu setelah berdiskusi dengan manusia di kanan kiri.

Hingga pada akhirnya tersisalah satu nomor: soal nomor 3. Soal yang dianggap termudah dari semuanya. Soal yang sesungguhnya minggu lalu sudah diberikan sebagai tugas yang harus dikumpul pada hari itu. Soal yang menanyakan peluang sebuah koin yang berhenti menghadap muka apabila dilempar sebanyak 5 kali. Soal yang jawabannya mungkin setengah atau sepersekian. Soal yang bikin chaos satu kelas. Soal yang mulai dikerjakan and everybody loses their mind.

Kelihatannya soal tersebut cukup untuk membangkitkan pikiran absurd orang-orang yang mengerjakannya. Bagaimana tidak? Buktinya, ada beberapa jawaban teman yang cukup aneh. Salah satunya, ada yang mengatakan ruang sampel pada soal nomer 3 adalah 'tak terhingga'. Mungkin dia tidak sadar, bahwa menyatakan ruang sampelnya 'tak terhingga' itu sama saja mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini termasuk dalam ruang sampelnya. Kalaupun jawaban 'tak terhingga' itu benar, berarti peluangnya adalah limit nol atau tidak mungkin. Bayangin aja, kamu melemparkan koin tapi tidak mungkin koinnya jatuh menghadap muka? Mungkin koinnya emang gak punya muka. Atau mungkin dia sedang lapar. Mungkin peribahasa kontemporer "logika butuh logistik" memang benar adanya. Ah, entahlah, aku juga lagi kesepian kelaparan kyknya, makanya nulis gak jelas gini kan....


have you ever felt so lonely that you'd fill your thought with any unnecessary things ?

have you ever felt so lonely that you'd try to fake your memories so you can feel better ?


Well, me neither. But I lied.

lol
jk



17 March 2014

Math of Universe


Seeing problems objectively will make a great boost to solve them. Because, sometimes, the problem is you. It's yourself that have made everything seems messed up :D

Since anything in this world can be modeled with math equations, this meme should relevant to any 'worldly' problems.

7 March 2014

people nowadays

generation of mankind in a picture
***
Yaaah kita tau kan mana yang bener mana yang salah. Tapi masih aja sering nyari pembenaran.
"Yang penting sama-sama enak". Itu sudah :))

Pernah merasakannya? Pastinya semua orang pernah. Sebagian kecil berubah. Sebagian keep in self-denial. Sebagian lainnya antipati. Sebagian menderita stockholm syndrome. Dan sisanya, juga yang paling umum, berubah jadi hipokrit. Hahaha.

Memang, yang namanya manusia lebih suka kebohongan yang menyenangkan daripada kebenaran yang menenangkan~