18 March 2014

Ilusi Ruang tak Hingga

Masih teringat hari kemarin, di kala jarum jam menunjukan pukul empat kurang sekian. Satu per satu kursi di ruangan penuh dari belakang, diikuti dengan wajah-wajah yang cemas tak bisa bersembunyi saat sang guru diduga akan melontarkan berbagai pertanyaan maut nan menjebak di kelas nanti. Di saat yang bersamaan, sebagian mahasiswa berharap dirinya dapat bertemu dengan Mario Teguh KW #eh.

Sejenak kemudian, mahasiswa tersebut kecewa karena tokoh idaman KW nya tersebut tak dapat hadir pada hari itu. Alih-alih sang guru yang datang, justru asistennya lah yang datang menggantikannya. Namun, seperti biasa, sang asisten pun hanya memberikan tugas kepada para mahasiswa dalam sekelebat cahaya OHP, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan dengan muka dinginnya. Ruangan pun riuh dengan cekikian dan wajah-wajah yang sumringah dalam hitungan detik.

Di tengah kebahagiaan kecil yang tercipta, mereka teringat kalau masih harus menanggung beban yang diberikan oleh sang asisten. Tiga butir soal dengan anak soal A dan B telah terpampang jelas tepat di depan mereka. Sementara itu, aku hanya mengernyitkan dahi, lalu terdiam seperti biasa, sembari menunggu kebaikan teman-teman di sekitar yang rela disamakan jawabannya. Tapi ternyata mereka juga masih kebingungan untuk menjawab soal tentang peluang -- sebuah pelajaran SMA yang terlupakan. Tak terasa satu-dua soal pun berlalu setelah berdiskusi dengan manusia di kanan kiri.

Hingga pada akhirnya tersisalah satu nomor: soal nomor 3. Soal yang dianggap termudah dari semuanya. Soal yang sesungguhnya minggu lalu sudah diberikan sebagai tugas yang harus dikumpul pada hari itu. Soal yang menanyakan peluang sebuah koin yang berhenti menghadap muka apabila dilempar sebanyak 5 kali. Soal yang jawabannya mungkin setengah atau sepersekian. Soal yang bikin chaos satu kelas. Soal yang mulai dikerjakan and everybody loses their mind.

Kelihatannya soal tersebut cukup untuk membangkitkan pikiran absurd orang-orang yang mengerjakannya. Bagaimana tidak? Buktinya, ada beberapa jawaban teman yang cukup aneh. Salah satunya, ada yang mengatakan ruang sampel pada soal nomer 3 adalah 'tak terhingga'. Mungkin dia tidak sadar, bahwa menyatakan ruang sampelnya 'tak terhingga' itu sama saja mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini termasuk dalam ruang sampelnya. Kalaupun jawaban 'tak terhingga' itu benar, berarti peluangnya adalah limit nol atau tidak mungkin. Bayangin aja, kamu melemparkan koin tapi tidak mungkin koinnya jatuh menghadap muka? Mungkin koinnya emang gak punya muka. Atau mungkin dia sedang lapar. Mungkin peribahasa kontemporer "logika butuh logistik" memang benar adanya. Ah, entahlah, aku juga lagi kesepian kelaparan kyknya, makanya nulis gak jelas gini kan....


have you ever felt so lonely that you'd fill your thought with any unnecessary things ?

have you ever felt so lonely that you'd try to fake your memories so you can feel better ?


Well, me neither. But I lied.

lol
jk



No comments:

Post a Comment