22 July 2014

Typical Student Regret(s)

Akhir semester, seperti biasa, ketenangan liburan harus diusik dengan munculnya salam hangat dari dosen tercinta di portal akademik. Dan lagi-lagi, banyak kejutan yang bermunculan. Yang diharapkan dapat A ternyata dapet B, yang diprediksi B eh malah A. Itu masih mending, daripada semester lalu, ada matkul yang saya yakin banget dapet A, eh keluarnya malah C (dan sampai sekarang masih gak habis pikir, ceritanya).

Karena lagi selo, saya cermati lagi persebaran nilai yang saya dapatkan selama kuliah 4 semester kemaren, ternyata lebih dari setengahnya 'cuma' dapet nilai B. Padahal, kebanyakan matkul yang dapet nilai B justru sudah saya targetkan dapet A di awal semester. Dan lucunya, matkul yang dapet nilai A kebanyakan justru matkul yang saya sendiri kurang yakin bakalan dapet A.

But, whyyy? :(

Nah, I had no idea how my grades haven't improved much since 1st semester. It looks like a downhill, actually. I worry much when it comes to waiting results of my courses. My holiday isn't really enjoyable since i have to think about these grades.

Saya memutuskan introspeksi lagi~
then I realized, I have always put same effort (or even less) in every semester. I did same sht every day:
telatan, males review materi, males memperhatikan, ngantukan, repeat.
Rasanya kalo kuliah yang saya hadiri itu cuma buat tandatangan tok, terus udah --"
Mana semangat mencari ilmu? Seperti kamu yang dulu yang gak akan senang pulang ke rumah sebelum dapet ilmu baru.

Mungkin saya lagi kehilangan semangat dan motivasi di tempat ini.
Lain dari waktu sekolah dulu, di sana motivasi seperti diberikan secara cuma-cuma oleh lingkungan. Aku rindu lingkungan yang mendukung seperti itu. Tempat di mana orang-orang beraksi dengan penuh semangat hingga menular ke orang-orang di sekitarnya. Saking asyiknya hingga terasa seperti terjebak di dalam dunia orang-orang hebat. Bahkan, mungkin aku merem pun masih bisa berlari dengan mendengar kemana gemuruh langkah kaki di sekitar menuju. (Eh, nek iki lebay tenan)

Basically, I lost the path. Oh wait, I already know the path.
I just need greater motivation to walk along the path.
I need someone to cheer and raise me up. #salahfokus

Yeah sure, everybody needs that, but for now, it's myself that needs to change.
Selain buat kebaikan diri sendiri, ini juga sebagai bentuk tanggung jawab karena kuliah masih dibiayai ortu, sehingga adalah kewajiban saya untuk membuat mereka bangga dengan proses maupun hasil perkuliahan saya.

Jadi mulai sekarang, seseorang tolong tampar saya kalo saya malas kuliah~ HAHA #guyon
Gimana enggak, nilai-nilai semester ini bagaikan reality check buat saya.

I keep telling this to myself.
No more laziness please, no more 'usaha nanggung' for my own sake.
Semoga (masih) bisa lulus dengan predikat cum laude. Eh, harus dink. Aamiin.


He who doesn't give it all, gives nothing.

btw, ada temen yang share artikel bagus: How to Not Waste Your Life at School

11 July 2014

Sebuah Catatan tentang Menulis

Aku seringkali menghapus paragraf yang baru saja aku selesaikan. Aneh memang. Sepertinya ada perasaan ragu terhadap apa yang aku tulis. Entah itu dari segi kontennya maupun tatanan bahasanya. Setelah aku telisik lebih jauh dan tulisanku aku baca ulang, ternyata perasaan aneh itu timbul karena hati kecilku berbisik: "tulisan kamu jelek!" haha. Yang dimaksud 'jelek' di sini adalah tidak beraturnya alur gagasan pada paragraf sehingga esensi yang disampaikan penulis tidak sekuat/sejalan dengan apa yang diterima pembaca.

Tapi, atas dasar apa pula tulisan tersebut aku bilang jelek? Bukannya ini jaman serba kontemporer? Jamannya batas-batas definisi dipermainkan sesuka hati?

Iya emang, tapi tetap saja ada 'protokolnya'. Ada standar yang berkembang dan diterima oleh kelompok masyarakat tertentu. Katakanlah nulis makalah untuk keperluan ilmiah standarnya begitu, kalo nulis novel standarnya lain lagi. Ya standar semacam itulah yang sudah jelas bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat yang terafiliasi. Kalo standar itu nggak dipenuhin, ya jangan harap mau diterima dengan baik oleh pembaca.

Nah, persoalannya, bagaimana caranya agar kita bisa 'menaklukan' standar-standar tulisan tersebut?
Jawabannya sebenarnya simple, yaitu belajar. Belajar apa? belajar rajin membaca.
Di "Inspiring Words for Writers" ada quote yang bilangnya gini

"Aku heran dengan orang-orang yang ingin menjadi penulis besar, tetapi membaca buku yang sangat kecil saja enggan."

uwow, itu dapet banget feelnya. Kalo mau jadi penulis yang baik ya belajarlah jadi pembaca yang baik. Kalo mau jadi guru ya harus jadi murid dulu.

Nggak cuma itu, belajar menulis pun juga banyak tantangan yang harus ditaklukan. Salah satu hal yang (mungkin) sering mengacaukan mindset menulis ialah tulisan-tulisan yang ada di media sosial. Misalnya di twitter, orang dengan mudahnya bisa menuangkan buah pikiran mereka dalam serangkaian twit. Bagus sih, orang-orang bisa lebih menyuarakan pendapat mereka dengan langsung menulis poin-poin penting dari inti gagasan. Tapi tanpa disadari, perilaku ini bisa membuat kita berpikir pragmatis yang juga berpengaruh pada cara menulis, hingga akhirnya banyak orang lupa bagaimana cara menulis paragraf yang baik dan koheren.

Selain itu, ada lagi tantangan menulis yang (kayaknya) semua orang pernah mengalami, yaitu bingung harus bagaimana memulai tulisan. Ini masalah klasik. Orang-orang terlalu sibuk mencari kalimat pembuka, padahal, kalimat pembuka terbaik seringkali justru adalah apa yang sedang dipikirkan. Alih-alih dituangkan ke dalam tulisan, orang-orang malah 'menyimpan' apa yang ada di dalam pikiran tersebut untuk dijadikan 'kejutan' yang akhirnya sering tidak terwujud karena kesibukan mencari kalimat pembuka.

Ini bener-bener jadi pelajaran penting buat aku sendiri, mengingat yang minat bacaku yang masih tergolong (sangat) rendah tapi pengen bikin tulisan bagus. Aduh.