11 July 2014

Sebuah Catatan tentang Menulis

Aku seringkali menghapus paragraf yang baru saja aku selesaikan. Aneh memang. Sepertinya ada perasaan ragu terhadap apa yang aku tulis. Entah itu dari segi kontennya maupun tatanan bahasanya. Setelah aku telisik lebih jauh dan tulisanku aku baca ulang, ternyata perasaan aneh itu timbul karena hati kecilku berbisik: "tulisan kamu jelek!" haha. Yang dimaksud 'jelek' di sini adalah tidak beraturnya alur gagasan pada paragraf sehingga esensi yang disampaikan penulis tidak sekuat/sejalan dengan apa yang diterima pembaca.

Tapi, atas dasar apa pula tulisan tersebut aku bilang jelek? Bukannya ini jaman serba kontemporer? Jamannya batas-batas definisi dipermainkan sesuka hati?

Iya emang, tapi tetap saja ada 'protokolnya'. Ada standar yang berkembang dan diterima oleh kelompok masyarakat tertentu. Katakanlah nulis makalah untuk keperluan ilmiah standarnya begitu, kalo nulis novel standarnya lain lagi. Ya standar semacam itulah yang sudah jelas bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat yang terafiliasi. Kalo standar itu nggak dipenuhin, ya jangan harap mau diterima dengan baik oleh pembaca.

Nah, persoalannya, bagaimana caranya agar kita bisa 'menaklukan' standar-standar tulisan tersebut?
Jawabannya sebenarnya simple, yaitu belajar. Belajar apa? belajar rajin membaca.
Di "Inspiring Words for Writers" ada quote yang bilangnya gini

"Aku heran dengan orang-orang yang ingin menjadi penulis besar, tetapi membaca buku yang sangat kecil saja enggan."

uwow, itu dapet banget feelnya. Kalo mau jadi penulis yang baik ya belajarlah jadi pembaca yang baik. Kalo mau jadi guru ya harus jadi murid dulu.

Nggak cuma itu, belajar menulis pun juga banyak tantangan yang harus ditaklukan. Salah satu hal yang (mungkin) sering mengacaukan mindset menulis ialah tulisan-tulisan yang ada di media sosial. Misalnya di twitter, orang dengan mudahnya bisa menuangkan buah pikiran mereka dalam serangkaian twit. Bagus sih, orang-orang bisa lebih menyuarakan pendapat mereka dengan langsung menulis poin-poin penting dari inti gagasan. Tapi tanpa disadari, perilaku ini bisa membuat kita berpikir pragmatis yang juga berpengaruh pada cara menulis, hingga akhirnya banyak orang lupa bagaimana cara menulis paragraf yang baik dan koheren.

Selain itu, ada lagi tantangan menulis yang (kayaknya) semua orang pernah mengalami, yaitu bingung harus bagaimana memulai tulisan. Ini masalah klasik. Orang-orang terlalu sibuk mencari kalimat pembuka, padahal, kalimat pembuka terbaik seringkali justru adalah apa yang sedang dipikirkan. Alih-alih dituangkan ke dalam tulisan, orang-orang malah 'menyimpan' apa yang ada di dalam pikiran tersebut untuk dijadikan 'kejutan' yang akhirnya sering tidak terwujud karena kesibukan mencari kalimat pembuka.

Ini bener-bener jadi pelajaran penting buat aku sendiri, mengingat yang minat bacaku yang masih tergolong (sangat) rendah tapi pengen bikin tulisan bagus. Aduh.

No comments:

Post a Comment