1 November 2014

Dear Procrastinator

Setidaknya ada dua tipe deadliner yang ada di dunia ini.

Tipe yang pertama, yaitu orang-orang yang bekerja keras sampai mepet deadline . Mereka tidak cepat puas, sehingga akan terus memperbaiki pekerjaannya hingga kesempatan yang mereka punya telah habis. Ini baru namanya deadliner sejati. Biasanya mereka adalah pribadi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. The world needs more people like this.

Tipe yang kedua, yaitu mereka yang suka menunda-nunda pekerjaannya. Alih-alih menyelesaikan kewajibannya, tipe yang kedua ini malah lebih suka mengerjakan hal-hal yang sebenernya tidak penting-penting amat. Tipe ini biasanya akan terlihat santai dan kuat menghadapi tumpukan pekerjaan di depan deadline, tapi bakalan bingung sendiri kalau udah mepet deadline. Mereka sering terlena dalam pemikiran delusional “everything is under control” walaupun pada kenyatannya…. chaos. Akibatnya, pekerjaan yang dihasilkan pun hanya sekedar “yang penting jadi”.

Tipe deadliner yang kedua, atau in english biasa disebut procrastinator, adalah penyakit produktivitas akut yang semakin menjangkiti umat manusia masa kini. Mengapa? terlalu banyak distraksi, tentu saja. Internet is everywhere, everyone is connected. Terlalu banyak informasi hingga orang-orang lupa bagaimana caranya fokus. Bahkan, tidak jarang kita mengeluh “too much news in one day” habis marathon liat berita di media. Iya, informasi yang kita dapatkan sehari-hari memang >80% tidak berguna.

Kembali ke persoalan deadliner, sebenarnya saya juga masih sering menjadi tipe kedua. Kemudian datanglah hari itu, hari ketika saya berpikir “Gimana ya rasanya jadi orang yang nggak suka menunda-nunda pekerjaan? Emang di mana letak asiknya jadi ‘wong sregep’?” (sebenernya saya dulu juga cah sregep YK, tapi itu tempo doeloe sebelum sumber internet sudekat).

Ceritanya, mulai hari itu saya sok nyoba-nyoba jadi orang rajin gitu. Saya mulai melakoni pekerjaan lebih awal. Pokoknya semuanya harus dikerjain tanpa keraguan dan dengan hati yang ikhlas! #sikap. Eh, ini serius, sesungguhnya keraguan dan hati yang terpaksa adalah salah satu (atau dua) penghambat terbesar pekerjaanmu.

Perubahan pun mulai terasa tak lama berselang.

Aktivitas seharian yang tadinya grusa-grusu, sekarang bisa jadi lebih kendor bak pake baju kebesaran... isis cah. Alhasil, saya bisa punya lebih banyak waktu buat ngerjain pekerjaan lain. haha. Jangan dikira kalo menyelesaikan pekerjaan lebih awal itu bisa bikin beban jadi berkurang, ga bakal, lebih santai sih iya, tapi kamu bakalan punya extra time buat hal-hal lain, seperti improve pekerjaan kamu, which is nice. 

It's like you're being fully in charge of your life.  It makes you feel peace in mind, strong, competent, and capable, while procrastination makes you feel weak, useless, and helpless

Hoam.

No comments:

Post a Comment