13 December 2014

On My Mind

"What's on your mind?"

"Ngg, banyak."
Entah kenapa kalimat itu sama sekali tak merangsangku untuk menuliskan barang sepatah kata pun di kotak itu.

Tapi siapa sangka, justru formasi kata tersebut kadang membuatku menerka lebih jauh tentang apa yang sedang aku pikirkan.

Memangnya apa yang sedang kaupikirkan?

Tentang UAS dan seluk beluknya?

"Ya."

Tentang potensi gagal KP dan KI liburan esok?

"Mungkin"

Dan juga hiruk-pikuk-pertanyaan-mau-kkn-dimana-padahal-lppm-juga-belum-ngeluarin-listnya, ataupun semacamnya.

Lagi-lagi seperti ini. Lamunan di kala senja yang tak ingin berakhir sebelum ia berjumpa dengan pagi. Alasan klasik.

Di saat-saat seperti inilah, semua hal yang pernah aku pikirkan menyapaku kembali. Tak terkecuali tentang sepi. Ya, sepi. Sepi itu indah. Sepi itu menyenangkan. Semua orang pastilah membutuhkan sepi dalam hidupnya untuk membangun interaksi intrapersonal. Sebagian orang bahkan berjuang untuk menyepi.

Akan tetapi, tak peduli seakrab apapun seseorang dengan 'sepi', akan ada masanya orang tersebut benar-benar merasa sendiri. Sepi bisa berubah menjadi keramaian yang menyebalkan, karena terkadang riuhnya pikiran tak bisa dikendalikan.

Di titik inilah, aku bisa benar-benar merasakannya, tentang betapa pentingnya orang-orang yang menyelinap masuk ke dalam lingkaranku. Lingkaran ini terus membesar, terus melebar, hingga lingkaran itu tak lagi nampak, ia terlalu besar, lalu pudar.

"Kenapa?"

"Mungkin karena ia tak lagi spesial."

"Haha, dasar bodoh."

"..."

"I guess we're just bunch of familiar strangers after all."

Aku hanyalah sedang di sini, meniti mimpiku. Tidakkah kau tahu? Ada jeda yang tercipta di antara kita. Dan apabila jeda itu tiada lagi bersekat, maka saat itu lah...

aku mempunyai dua pilihan: 

aku tak perlu lagi bermimpi tentangmu 

atau 

aku hidup bersamamu di dalam mimpi.

No comments:

Post a Comment